IKATAN WIJA PUATTA LA TENRI TAPPU To APPALIWENG, MENUJU MASA DEPAN PEMAJUAN KEBUDAYAANSULAWESI SELATAN
bola'
jmsi'
kesaktian

IKATAN WIJA PUATTA LA TENRI TAPPU To APPALIWENG, MENUJU MASA DEPAN PEMAJUAN KEBUDAYAANSULAWESI SELATAN

Selasa, 06 Oktober 2026,
Penulis : Dr. Drs. Andi Djalante Mappasessu, MM, MSi.
( Putera Andi Mappasessu Sulewatang Amali,  Pemerhati Sosiologi Hukum, Pemerintahan dan Sosial-Budaya)

BONE-WARTASULSEL.Id.Kebudayaan tidak pernah lahir dari ruang yang kosong. Ia tumbuh dari perjalanan sejarah, pengalaman masyarakat, nilai-nilai yang diwariskan antargenerasi, serta keteladanan para pendahulu yang menjadi bagian dari identitas suatu masyarakat. Karena itu, ketika sebuah generasi berusaha mengenali kembali sejarah leluhurnya, sesungguhnya yang sedang dilakukan bukan sekadar mengingat masa lalu, melainkan mencari nilai yang masih dapat dihidupkan untuk menjawab masa depan dengan berbagai tantangan yang akan dihadapi didalamnya. 

Dalam konteks itulah kehadiran Ikatan Wija Puatta La Tenri Tappu To Appaliweng menjadi menarik untuk dilihat. Menurut sumber yang diperoleh penulis, Organisasi ini lahir dari gagasan para pendiri, pengurus, anggota dan penasihat yang memiliki ikatan darah sebagai cucu dan cicit La Tenri Tappu To Appaliweng, Raja Bone XXIII (1775–1812), yang berasal dari putra dan putri beliau sebagai para leluhur. Ikatan genealogis tersebut menjadi salah satu dasar lahirnya kesadaran bersama untuk menghimpun keluarga, mengenali sejarah, menjaga hubungan silaturahmi dan  yang lebih penting, meneruskan nilai-nilai baik yang diwariskan oleh para leluhur.

Disadari penuh oleh para keturunan La Tenri tappu, bahwa organisasi yang dibangun atas dasar “Sompung Lolo” ini tentu tidak akan berhenti pada persoalan siapa yang menjadi keturunan siapa. Meskipun diakui, pertimbangan nasab adalah pintu untuk masuk membangun organisasi, tetapi nilai-nilai  kebudayaan yang menyertainya adalah landasan amanah yang harus diterjemahkan dalam kehidupan nyata. Di sinilah relevansi kehadiran Ikatan Wija Puatta La Tenri Tappu To Appaliweng dalam konteks pemajuan kebudayaan Sulawesi Selatan.

Pemajuan kebudayaan pada hakikatnya bukan hanya menjaga benda-benda peninggalan masa lalu. Kebudayaan mencakup pengetahuan, tradisi, bahasa, kesenian, adat istiadat, nilai sosial, sejarah, teknologi tradisional, serta berbagai ekspresi budaya yang hidup dalam masyarakat. 

Kebudayaan akan kehilangan maknanya apabila hanya disimpan sebagai cerita masa lalu tanpa diwariskan, dikembangkan dan dimanfaatkan untuk membangun kehidupan masyarakat yang lebih baik.
Karena itu, kehadiran organisasi keluarga seperti Ikatan Wija Puatta La Tenri Tappu To Appaliweng dapat mengambil ruang yang konstruktif. 

Organisasi dapat menjadi salah satu simpul masyarakat yang membantu mendokumentasikan sejarah, menggali kembali nilai-nilai budaya, dan memperkenalkan sejarah kepada generasi muda, serta membangun kegiatan kebudayaan yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

Satu sisi menurut penulis,  yang juga sebagai wija dari Puatta La Tenri Tappu to Appaliweng dari Nasab La Mappangewa Arung Lompu Petta Anreguruanakkarung, bahwa kedepannya yang penting untuk diejawantahkan adalah bagaimana organisasi ini memandang warisan leluhur bukan sebagai simbol kebesaran semata, melainkan sebagai sumber nilai dan tanggung jawab moral. Jika dari sumber sejarah sudah sama diketahui,  bahwa para leluhur sangat jelas telah membangun sejumlah nilai yang sangat luhur yang terbukti dapat menjawab persoalan dimasanya, seperti siri',  pesse, lempu', getteng, acca dan reso, maka nilai-nilai tersebut perlu diimplementasikan kembali dalam konteks kehidupan masyarakat hari ini. 

Dan kita tahu nilai budaya akan hidup hidup terus di negeri ini dan mampu menjawab persoalan zamannya.
Generasi cucu dan cicit memiliki posisi penting dalam proses tersebut, sekalipun mereka tidak lagi hidup dalam suasana sosial yang sama dengan para leluhurnya. Perubahan teknologi, globalisasi, media sosial dan perubahan pola hubungan sosial menghadirkan tantangan baru. 

Karena itu, tugas generasi sekarang bukan mengulang masa lalu, melainkan mengambil nilai terbaik dari masa lalu untuk membangun masa depan.
Niat para cucu dan cicit La Tenri Tappu To Appaliweng dalam membentuk organisasi ini patut ditempatkan dalam kerangka tersebut. 

Organisasi ini diharapkan menjadi wadah untuk mewariskan dan memajukan nilai-nilai kebudayaan serta kebaikan yang menyertainya kepada masyarakat Sulawesi Selatan khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya. 

Dengan demikian, manfaat keberadaan organisasi tidak hanya dirasakan oleh lingkungan keluarga, tetapi juga dapat memberikan kontribusi sosial dan kebudayaan yang lebih luas.
Ke depan, kolaborasi menjadi kata kunci. Ikatan Wija Puatta La Tenri Tappu To Appaliweng tidak perlu berjalan sendiri. Organisasi dapat membangun kerja sama dengan pemerintah daerah, lembaga kebudayaan, perguruan tinggi, komunitas budaya, organisasi kemasyarakatan, museum, lembaga adat, generasi muda dan berbagai pihak lainnya. Kolaborasi dimaksud dapat diwujudkan melalui penelitian sejarah, penerbitan buku, dokumentasi silsilah, seminar, diskusi kebudayaan, pendidikan sejarah lokal, pelestarian tradisi, pengembangan literasi budaya serta kegiatan kebudayaan lainnya.

Yang tidak kalah penting adalah memberikan ruang kepada generasi muda. Mereka perlu diperkenalkan kepada sejarah leluhur bukan hanya melalui cerita, tetapi melalui pendekatan yang sesuai dengan zamannya. Digitalisasi arsip, dokumentasi audiovisual, perpustakaan keluarga, basis data sejarah dan silsilah, serta media sosial dapat menjadi sarana untuk membuat warisan budaya lebih mudah diakses oleh generasi berikutnya.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah organisasi yang lahir dari ikatan genealogis bukan semata-mata seberapa banyak anggota yang dapat dihimpun, tetapi sejauh mana ikatan tersebut mampu melahirkan manfaat dan kebaikan bagi ummat manusia. Nasab memberikan identitas, sejarah memberikan arah, tetapi tindakan nyata memberikan makna.
Ikatan Wija Puatta La Tenri Tappu To Appaliweng karena itu dapat menempatkan dirinya sebagai bagian dari ekosistem pemajuan kebudayaan Sulawesi Selatan. Bukan untuk mengklaim kebudayaan sebagai milik kelompok tertentu, tetapi untuk ikut menjaga, mengembangkan dan mewariskannya sebagai kekayaan bersama. Sebab pada akhirnya, warisan terbesar seorang leluhur bukanlah hanya nama yang tercatat dalam silsilah. Warisan terbesar adalah nilai kebaikan yang terus hidup dalam diri anak cucunya dan kemudian memberi manfaat bagi masyarakat.

Dari situlah masa depan pemajuan kebudayaan dapat dibangun, yakni : berangkat dari sejarah, berpijak pada nilai, bergerak melalui kolaborasi, dan diwariskan kepada generasi yang akan datang. Selamat atas terbentuknya Ikatan Wija Puatta La Tenri Tappu To Appaliweng Arungpone XXIII, dan semoga menjadi wadah pemajuan dan pengembangan kebudayaan Sulawesi Selatan. Salam Kekeluargaan, Salam Pancasila, dan Merdeka !!!(*)

TerPopuler