PT MDA Kembali Perkuat Program JKD, Rusdin: Kebutuhan Dasar, Mustafa: Lebih Terorganisir
jmsi'
polri'
polri'

PT MDA Kembali Perkuat Program JKD, Rusdin: Kebutuhan Dasar, Mustafa: Lebih Terorganisir

Jumat, 14 Agustus 2026,
LUWU. WARTA SULSEL. ID - PT MDA (Masmindo Dwi Area) kembali memperkuat Program Jaga Keselamatan Desa (JKD) melalui pengembangan kapasitas Desa Tangguh Bencana (DESTANA). Kamis, 13 Agustus 2026, di Desa Rante Balla, Kecamatan Latimojong, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan (Sulsel).

Kali ini, penguatan difokuskan pada kemampuan masyarakat mengelola dapur umum sebagai salah satu kebutuhan penting dalam penanganan kondisi darurat pascabencana. Bersama Pusat Studi Pemetaan dan Bencana (PUSPENA) Universitas Cokroaminoto Palopo (UNCP), kegiatan ini melibatkan Dinas Sosial Kabupaten Luwu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Luwu, Palang Merah Indonesia (PMI), Pusat Penelitian Kebencanaan Universitas Hasanuddin, Emergency Response Team (ERT) MDA, serta masyarakat setempat. Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kesiapsiagaan yang terkoordinasi di tingkat desa.

Dalam simulasi, warga tidak hanya mendapatkan pemahaman mengenai fungsi dapur umum, tetapi juga terlibat langsung dalam tahapan penanganannya. Mulai dari pembagian peran dan koordinasi personel, pengelolaan bahan pangan, proses pengolahan, hingga distribusi makanan kepada masyarakat terdampak.

Pada kegiatan tersebut, Drs. Rusdin, M.Si,
Sekretaris Dinas Sosial Kabupaten Luwu, mengatakan, bahwa kemampuan memenuhi kebutuhan dasar masyarakat menjadi bagian penting dari ketangguhan sebuah desa ketika menghadapi bencana.

“Ketangguhan desa tidak hanya diukur dari kemampuan masyarakat menyelamatkan diri dari ancaman bencana, tetapi juga dari kemampuannya memastikan tidak ada warga yang kehilangan akses terhadap kebutuhan dasar setelah bencana terjadi," ujar Rusdin.

Diungkapkannya, dapur umum adalah salah satu bentuk nyata dari kesadaran sosial tersebut ketika keselamatan tidak lagi dimaknai sebagai keselamatan diri sendiri, tetapi sebagai tanggung jawab untuk memastikan keselamatan dan keberlangsungan hidup bersama.

"Selain itu, keterlibatan pemerintah, masyarakat, lembaga kemanusiaan, dan perusahaan dalam simulasi juga penting untuk membangun koordinasi sejak sebelum kondisi darurat terjadi. Dengan demikian, masing-masing pihak telah memahami peran yang perlu dijalankan ketika menghadapi situasi bencana," ungkapnya.

Di kesempatan yang sama, Ketua PUSPENA UNCP, Dr. Ichwan Muis, menilai kesiapsiagaan masyarakat tidak cukup dibangun melalui pengetahuan teknis mengenai kebencanaan. Kemampuan warga mengenali risiko, mengorganisasikan diri, dan memanfaatkan sumber daya yang  tersedia di desa menjadi bagian penting, agar masyarakat dapat mengambil peran ketika kondisi darurat terjadi.

“Desa Tangguh Bencana dibentuk untuk mengenali risiko, mengorganisasikan Masyarakat, dan menciptakan kesadaran sosial untuk menjaga keselamatan desa,” cetus Ichwan Muis. 

Sementara itu, Kepala Teknik Tambang (KTT) MDA, Mustafa Ibrahim, menegaskan, bahwa  penguatan kapasitas masyarakat menjadi bagian penting dari Program Jaga Keselamatan Desa. Kesiapsiagaan tidak cukup hanya dengan mengetahui apa yang harus dilakukan ketika bencana terjadi, tetapi juga bagaimana masyarakat mampu mengorganisasikan diri dan memenuhi kebutuhan dasar pada kondisi darurat.

“Kesiapsiagaan harus dibangun sebelum kondisi darurat terjadi. Melalui latihan seperti ini, masyarakat tidak hanya memahami perannya, tetapi juga memiliki pengalaman untuk bekerja bersama, mengelola sumber daya yang tersedia, dan merespons situasi secara lebih terorganisir. Inilah yang ingin terus kami kuatkan melalui Jaga Keselamatan Desa,” tegas Mustafa Ibrahim.

Simulasi dapur umum di Rante Balla melengkapi rangkaian penguatan DESTANA yang dijalankan MDA bersama PUSPENA dan para pemangku kepentingan terkait. Melalui program ini, kapasitas yang dibangun diharapkan semakin melekat di tingkat desa dan dapat digunakan masyarakat ketika menghadapi kondisi darurat.

QMH. Yoga. **

TerPopuler