Menapak Jejak Kepemimpinan La Koro, Arung Matoa Wajo ke-41 (1885 – 1891) :Di Tengah Ujian Menjaga Wibawa Kedaulatan Wajo
bola'
jmsi'
dandim'
sulselbar'
ganra'
man'
kbihu'
kbihu2'
annaila'
baselo'
baselo'

Menapak Jejak Kepemimpinan La Koro, Arung Matoa Wajo ke-41 (1885 – 1891) :Di Tengah Ujian Menjaga Wibawa Kedaulatan Wajo

Rabu, 09 September 2026,


Penulis :  Dr. Drs. Andi Djalante, MM, MSi
( Putera Andi Mappasessu Sulewatang Amali, Serta Pemerhati Sosiologi Hukum, Pemerintahan, dan Sosial-Budaya ) 

BONE-WARTASULSEL.Id.  Sejarah Wajo tidak hanya menyimpan nama-nama pemimpin, tetapi juga merekam perjuangan sebuah masyarakat dalam mempertahankan tata kehidupan, kehormatan dan kewenangan politiknya ketika zaman berubah. 

Di antara tokoh yang berada pada persimpangan perubahan itu adalah La Koro Arung Padali, yang tercatat sebagai Arung Matoa Wajo ke-41 dan memerintah pada 1885–1891. Pemerintah Kabupaten Wajo menempatkan La Koro Arung Padali ri  Wajo dalam urutan Arung Matoa setelah La Cincing Akil Ali. 

Enam tahun masa pemerintahannya mungkin terlihat singkat jika hanya dibaca melalui angka. Namun, angka itu menjadi sangat berarti ketika kita menempatkannya dalam konteks sejarah akhir abad XIX. Di masa itu sebagaimana sumber Sejarah, Wajo sedang menghadapi persoalan internal, sementara di masa yang sama di luar dirinya di Sulawesi pada umumnya kekuatan kolonial Belanda semakin memperluas pengaruhnya. 

Dalam keadaan seperti itu, kepemimpinan La Koro tidak cukup dinilai dari lamanya ia memerintah. Ia harus dilihat dari bagaimana ia menghadapi berbagai situasi, terkhusus ketika ruang politik kerajaan semakin sempit. Disinilah kemampuan kerajaan-kerajaan Bugis untuk menentukan nasibnya sendiri mulai diuji.

Sebagai salah satu Kerajaan yang berpengaruh di Sulawesi, Kerajaan Wajo memiliki karakter politik yang khas. Arung Matoa tidak tepat disamakan begitu saja dengan raja absolut dalam pengertian umum. Sistem pemerintahan Wajo dibangun melalui pranata dan struktur politik yang melibatkan berbagai pemangku kekuasaan. Sejumlah Kajian sejarah Wajo menunjukkan bahwa setelah masa Batara, Wajo berkembang dalam sistem Arung Matoa; struktur ini melibatkan Arung Matoa bersama unsur-unsur lain dalam pemerintahan Wajo. Karena itu, kewibawaan seorang Arung Matoa bukan hanya persoalan kekuasaan pribadi, melainkan berkaitan dengan keberlangsungan pranata politik Wajo.

Di sinilah kepemimpinan La Koro menjadi penting. Ia tampil setelah Wajo mengalami periode yang tidak sederhana. Sejumlah sumber sejarah menggambarkan bahwa sebelum pemerintahannya, konflik di antara elite telah mengganggu pemerintahan dan begitupun pada soal penegakan hukum. Dalam situasi tersebut, La Koro dikenal sebagai pemimpin yang tegas. 

Dari sumber yang menghimpun sejarah Wajo juga dapat dicatat, bahwa pada masa pemerintahannya hukuman keras diterapkan terhadap pelaku kejahatan dan ketertiban diperkuat. 

Ia juga melakukan pembenahan di bidang militer dengan mengangkat pejabat seperti jenderal, kolonel dan mayor yang memiliki pasukan tetap. Dalam konteks ini keamanan merupakan bagian dari kemampuan sebuah kerajaan mempertahankan kewibawaannya. 

Kerajaan yang tidak mampu menjaga ketertiban internal akan semakin mudah ditekan dari luar. Karena itu, penataan hukum dan pertahanan pada masa La Koro dapat dibaca sebagai usaha memulihkan kapasitas pemerintahan Wajo setelah mengalami ketegangan internal.

La Koro dalam melihat berbagai keadaan seperti itu membuatnya melakukan pendekatan hubungan antar kerajaan Bugis se-kawasan, adalah Langkah yang semakin penting. Wajo tidak pernah hidup dalam ruang politik yang benar-benar terpisah dari kerajaan-kerajaan di sekitarnya. Hubungan dengan Bone, Soppeng, Sidenreng, Marioriawa dan pusat-pusat politik Bugis lainnya berkembang melalui berbagai bentuk seperti : hubungan kekerabatan, perkawinan, perdagangan, konflik, kerja sama dan diplomasi. Karena itu, kemampuan seorang pemimpin untuk menjaga hubungan dengan lingkungan politiknya merupakan bagian dari kekuatan kerajaan itu sendiri.

Dalam konteks tersebut, La Koro menarik untuk dibaca sebagai bagian dari jaringan politik Bugis yang lebih luas. Tetapi perlu ditegaskan bahwa pendekatan dengan kehadiran jaringan antarkerajaan bukan berarti Wajo mempunyai satu kesatuan politik Bugis yang solid. Jaringan tersebut lebih tepat dipahami sebagai “modal sosial-politik” yang dapat digunakan untuk mempertahankan kepentingan masing-masing kerajaan.

Ujian terbesar terhadap modal tersebut datang ketika Belanda berhasil memperluas pengaruhnya. Pada masa itu  Wajo adalah menjadi salah satu kerajaan yang berada dalam “tekanan politik colonial”. Dan di sinilah makna mempertaruhkan “wibawa kedaulatan” menjadi penting. 

Dalam konteks ini yang dipertaruhkan adalah kemampuan kerajaan untuk mengatur urusan dalam negerinya, mempertahankan pranata politiknya,  menjaga wilayah dan kehormatannya, serta mempunyai ruang untuk menentukan keputusan tanpa dikendalikan sepenuhnya oleh kekuatan luar. 

Maka, menjaga wibawa kedaulatan bagi La Koro bukan semata-mata berarti memenangkan perang. Ia dapat berarti memulihkan ketertiban, memperkuat pertahanan, menjaga pranata pemerintahan, memelihara hubungan antarkerajaan dan menggunakan diplomasi ketika berhadapan dengan kekuatan yang lebih besar.

Di sinilah kepemimpinan La Koro harus dinilai secara proporsional. Ia tidak dapat menghentikan perubahan geopolitik yang sedang berlangsung. Tetapi ia berusaha memastikan bahwa Wajo memasuki perubahan tersebut
 Ia tidak dapat menghentikan perubahan geopolitik yang sedang berlangsung. Tetapi ia berusaha memastikan bahwa Wajo memasuki perubahan tersebut dengan pemerintahan yang lebih tertib dan pertahanan yang lebih terorganisasi. 

Dengan kata lain, ia berusaha memperkuat posisi tawar Wajo ketika pilihan politik semakin terbatas. 
Karena itu, keberhasilan La Koro tidak semestinya diukur dengan pertanyaan sederhana: apakah ia berhasil mempertahankan Wajo dari Belanda? Pertanyaan tersebut terlalu sempit untuk memahami seorang pemimpin yang hidup dalam masa perubahan struktural. 

Pertanyaan yang lebih tepat adalah: sejauh mana La Koro berhasil mempertahankan kemampuan Wajo untuk mengatur dirinya sendiri ketika tekanan dari luar semakin kuat? Jawabannya tentu tidak sepenuhnya dapat diberikan secara hitam-putih. La Koro memang tidak berhasil menghentikan gencarnya proses kolonialisasi Belanda. 

Tetapi ia mestinya dipahami sebagai sosok tokoh yang tidak berdiam diri dan pasif menghadapi kolonialisme. 
Dimasa itu Ia juga mesti dipahami sebagai   seorang pemimpin yang menghadapi persoalan mendasar, yakni : bagaimana mempertahankan kewibawaan sebuah kerajaan ketika dunia di sekelilingnya sedang berubah dan kekuatan yang dihadapinya jauh lebih besar ?

Pertanyaan tersebut membuat warisan La Koro tetap relevan untuk dibaca hari ini. Sebab kepemimpinan pada akhirnya bukan hanya tentang siapa yang memegang kekuasaan, tetapi tentang apa yang mampu dipertahankan ketika kekuasaan itu diuji. 

Dalam konteks ini La Koro, yang diuji bukan hanya dirinya sebagai Arung Matoa, tetapi juga kemampuan Wajo mempertahankan pranata, kehormatan, jaringan sosial-politik dan ruang menentukan nasibnya sendiri.

Karena itu, La Koro Arung Padali patut ditempatkan dalam sejarah sebagai figur pemimpin Wajo yang menghadapi ujian besar menjaga wibawa kedaulatan Wajo. Dan pastinya walaupun ia tidak berada pada masa datangnya zaman baru, tetapi jejak kepemimpinannya menunjukkan satu hal penting, bahwa ketika kedaulatan menghadapi tekanan, pertahanan terakhir sebuah masyarakat bukan hanya pada kekuatan senjata, melainkan juga ketertiban, pranata, jaringan, diplomasi dan kemampuan menjaga martabat bersama. Demikian, Salam hormat kepada para Wija dan Sompung Lolo Puatta La Koro Arung Padali, Aruang Matoa Wajo ke-41. (*)

TerPopuler