OPINI: Organisasi tidak akan pernah menjadi besar jika pengurus nasional hanya sibuk menggaungkan cita-cita
bola'
jmsi'
kesaktian

OPINI: Organisasi tidak akan pernah menjadi besar jika pengurus nasional hanya sibuk menggaungkan cita-cita

Sabtu, 24 Oktober 2026,

PALOPO. WARTA SULSEL. ID - Organisasi tidak akan pernah menjadi besar jika pengurus nasional hanya sibuk menggaungkan cita-cita, sementara pengurus daerah dibiarkan berjuang sendirian.

Ada sesuatu yang patut dipertanyakan dalam perjalanan kepengurusan nasional Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND). Di tengah lantangnya slogan untuk menjadikan LMND sebagai organisasi yang mandiri, modern, dan terbesar, muncul pertanyaan mendasar sejauh mana cita-cita tersebut benar-benar diwujudkan dalam kerja organisasi, terutama dalam membangun dan memperkuat kepengurusan di daerah.?

Sebab, membesarkan organisasi bukan sekadar perkara merumuskan slogan, menyusun program kerja, menggelar agenda nasional, atau berpidato tentang masa depan gerakan mahasiswa. Organisasi yang ingin menjadi besar harus memiliki keberpihakan yang nyata terhadap struktur di bawahnya. Pengurus daerah bukan sekadar pelengkap administrasi, bukan pula alat untuk memenuhi kebutuhan konsolidasi nasional ketika dibutuhkan. Mereka adalah ujung tombak perjuangan yang berhadapan langsung dengan dinamika sosial, persoalan rakyat, keterbatasan sumber daya, serta tantangan dalam merekrut dan mendidik kader.

Lantas, bagaimana mungkin LMND hendak menjadi organisasi terbesar jika pengurus di daerah justru merasa ditinggalkan oleh kepengurusan nasionalnya sendiri.
Kritik ini bukan lahir dari kebencian terhadap organisasi. Justru sebaliknya, kritik ini muncul dari kepedulian terhadap masa depan LMND. Sebab, kecintaan terhadap organisasi tidak seharusnya membuat kader kehilangan keberanian untuk mengoreksi kepemimpinan yang dinilai belum menjalankan tanggung jawabnya secara maksimal.

Mandiri Bukan Berarti Membiarkan Daerah Berjuang Sendiri Kata mandiri memang memiliki makna penting dalam perjuangan organisasi. LMND harus mampu membangun kekuatan ideologis, memperkuat basis kader, serta mengembangkan sumber daya organisasinya sendiri. Namun, kemandirian tidak boleh dijadikan alasan untuk membenarkan absennya dukungan struktural dari tingkat nasional kepada daerah.

Kemandirian organisasi semestinya dibangun melalui proses pendidikan kader, penguatan kapasitas kepemimpinan, pengembangan ekonomi organisasi, pendampingan administrasi, serta dukungan terhadap kerja-kerja advokasi dan pengorganisiran massa.

Jika pengurus daerah dituntut untuk tumbuh secara mandiri, pertanyaan berikutnya adalah apa langkah konkret pengurus nasional untuk memastikan daerah memiliki kemampuan dan sumber daya agar bisa mandiri? Apakah ada pendampingan yang berkelanjutan? Apakah ada upaya memperkuat kapasitas kader? Apakah terdapat mekanisme dukungan bagi daerah yang mengalami kesulitan dalam menjalankan program organisasi?
Jika semua itu tidak menjadi perhatian serius, maka slogan kemandirian berisiko berubah menjadi pembenaran atas pembiaran. Daerah diminta berdiri tegak, tetapi tidak dibekali dukungan yang memadai untuk memperkuat pijakannya.

Kita harus memahami bahwa kemandirian bukanlah kondisi ketika setiap daerah dipaksa menyelesaikan seluruh persoalannya sendiri. Kemandirian adalah kemampuan organisasi membangun kekuatan kolektif agar setiap struktur memiliki kapasitas untuk berkembang.
Modern dalam Gagasan, tetapi Bagaimana dengan Kerja Organisasi? Modernisasi organisasi tidak cukup diukur dari kecanggihan komunikasi, ramainya agenda, atau kemampuan pengurus nasional mengemas gagasan dalam bahasa yang menarik. Modernitas harus tercermin dalam tata kelola organisasi yang transparan, sistem koordinasi yang efektif, distribusi pengetahuan yang merata, serta mekanisme dukungan yang dapat dirasakan seluruh struktur.

Pengurus nasional semestinya menjadi pusat koordinasi, pendidikan, dan penguatan organisasi. Mereka harus mampu membaca ketimpangan kapasitas antardaerah, memetakan persoalan yang dihadapi kader, serta merumuskan langkah strategis untuk memperkuat daerah yang membutuhkan pendampingan.

Ketika pengurus daerah harus berjuang menghadapi keterbatasan dengan sumber dayanya sendiri, sementara dukungan dari tingkat nasional dinilai belum terasa, maka wajar apabila muncul pertanyaan mengenai efektivitas kepemimpinan dan arah modernisasi organisasi. Sebab, organisasi modern bukan organisasi yang hanya pandai berbicara tentang kemajuan, melainkan organisasi yang mampu memastikan kemajuan tersebut dirasakan oleh seluruh strukturnya.

Terbesar Tidak Bisa Dibangun Hanya dengan Menghitung Struktur Keinginan menjadikan LMND sebagai organisasi mahasiswa yang terbesar tentu membutuhkan kerja keras. Namun, kebesaran organisasi tidak bisa semata-mata diukur dari jumlah struktur, luasnya wilayah kepengurusan, atau banyaknya agenda yang tercatat dalam laporan pertanggungjawaban.

Organisasi yang besar harus memiliki kader yang terdidik, struktur yang aktif, kepemimpinan yang bertanggung jawab, serta kemampuan melakukan kerja-kerja nyata di tengah masyarakat.

Apa artinya memiliki banyak kepengurusan jika sebagian daerah kesulitan menjalankan roda organisasi? Apa artinya mengklaim perluasan struktur jika penguatan kader tidak berjalan secara berkelanjutan? Dan apa artinya menggaungkan kebesaran organisasi jika daerah yang menjadi fondasi pertumbuhan justru merasa berjalan tanpa dukungan yang memadai?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut harus dijawab secara terbuka oleh pengurus nasional. Pengurus daerah bukan sekadar angka dalam laporan konsolidasi. Mereka adalah tempat kader ditempa, gagasan perjuangan diuji, dan keberpihakan organisasi kepada rakyat diwujudkan. Karena itu, membangun daerah seharusnya menjadi bagian utama dari strategi nasional, bukan pekerjaan tambahan yang diserahkan sepenuhnya kepada pengurus Daerah
Pengurus Nasional Harus Berani Mengevaluasi Diri Kritik terhadap pengurus nasional LMND semestinya menjadi momentum untuk melakukan evaluasi secara menyeluruh. 

Jika selama masa kepengurusan dukungan terhadap daerah dinilai minim atau tidak dirasakan secara nyata, maka persoalan tersebut harus dijelaskan dan diperbaiki, bukan sekadar dijawab dengan retorika tentang semangat perjuangan. Pengurus nasional perlu membuka ruang evaluasi yang melibatkan pengurus daerah, menjelaskan kebijakan dan kemampuan dukungan organisasi, serta menyusun mekanisme kerja yang lebih konkret untuk memperkuat struktur di bawahnya.

Dukungan tidak selalu harus berbentuk uang atau bantuan material. Dukungan juga dapat berupa pendidikan kader, pendampingan organisasi, bantuan pengembangan program, fasilitasi advokasi, penguatan jaringan, serta koordinasi yang konsisten. Yang terpenting adalah adanya kerja nyata, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Apabila memang terdapat keterbatasan sumber daya di tingkat nasional, hal itu harus disampaikan secara terbuka. Keterbatasan bukan sesuatu yang memalukan bagi organisasi mahasiswa. Yang patut dipertanyakan adalah ketika persoalan tersebut tidak dikelola secara transparan dan tidak diikuti strategi bersama untuk memperkuat organisasi.

Kepemimpinan nasional bukan sekadar tentang siapa yang memegang jabatan tertinggi, melainkan tentang siapa yang mampu memastikan seluruh struktur bergerak, berkembang, dan memiliki masa depan. Jangan Biarkan Daerah Menjadi Korban Slogan LMND memiliki cita-cita perjuangan yang jauh lebih besar daripada kepentingan satu periode kepengurusan. Karena itu, kepemimpinan nasional tidak boleh terjebak pada pencitraan keberhasilan yang tidak diiringi penguatan organisasi secara merata.

Jika ingin menjadi mandiri, bangun sistem yang memungkinkan daerah mandiri.
Jika ingin menjadi modern, hadirkan tata kelola yang terbuka, efektif, dan berpihak pada penguatan kader. Jika ingin menjadi terbesar, investasikan energi, gagasan, dan sumber daya organisasi untuk membangun struktur daerah yang kuat. Jangan sampai ketiga cita-cita tersebut hanya menjadi kalimat yang berulang dalam forum-forum organisasi, sementara pengurus daerah terus berjuang dengan keterbatasan tanpa pendampingan yang memadai. Kader di daerah tidak membutuhkan janji yang terus diulang. Mereka membutuhkan kepemimpinan yang hadir, komunikasi yang terbuka, dan strategi pengembangan organisasi yang benar-benar dapat dijalankan.

Pada akhirnya, kritik ini harus menjadi pengingat bahwa organisasi tidak dibesarkan oleh slogan, tetapi oleh kerja kolektif tidak diperkuat oleh klaim, tetapi oleh pengorganisiran dan tidak dimajukan oleh segelintir elite, tetapi oleh seluruh kader yang bergerak bersama. Pengurus Nasional LMND perlu menjawab satu pertanyaan mendasar apakah slogan mandiri, modern, dan terbesar telah menjadi kenyataan dalam kehidupan organisasi, atau justru masih menjadi cita-cita yang terus digaungkan tanpa dukungan yang sepadan bagi daerah?
Sebab, jika daerah adalah fondasi organisasi, mengabaikan daerah sama saja dengan membiarkan fondasi itu melemah.

LMND tidak membutuhkan kebesaran yang hanya terdengar dalam pidato. LMND membutuhkan kebesaran yang dapat dirasakan oleh kader, dibuktikan melalui kerja, dan dipertanggungjawabkan kepada seluruh struktur organisasi.

Oleh: Egar Muhammad 
Ketua LMND Kota Palopo 
Jum'at, 23 Oktober 2026

TerPopuler