Pelayanan Kesehatan di Puskesmas Bua Ditanggapi Legislator PDI-P, Andi Admiral: Meminta pertanggungjawaban
jmsi'
dandim'
sulselbar'
ganra'
man'
kbihu'
kbihu2'
annaila'
baselo'
baselo'

Pelayanan Kesehatan di Puskesmas Bua Ditanggapi Legislator PDI-P, Andi Admiral: Meminta pertanggungjawaban

Selasa, 18 Agustus 2026,

LUWU. WARTA SULSEL. ID - Terkait pelayanan kesehatan yang berada di Puskesmas Bua, Pemda Luwu, Sulsel, kini ditanggapi oleh Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Andi Admiral, Legislator PDI-P, Dapil Kecamatan Bua.

Hal itu disebabkan di beberapa platform media dikabarkan, bahwa kasus kelangkaan hingga habisnya stok obat demam yang sempat dikeluhkan masyarakat kini menjadi sorotan tajam bagi publik.

Sebelumnya, sejumlah pasien rawat inap berinisial S dan B warga bua, tidak mendapatkan obat penurun panas, sebab stok obat mengalami kekosongan selama beberapa hari. Bahkan, keluarga pasien disebut diminta membeli obat di luar puskesmas.

Menanggapi hal tersebut, Andi Admiral, menegaskan, bahwa Puskesmas merupakan fasilitas kesehatan tingkat pertama yang menjadi tumpuan utama masyarakat untuk memperoleh pelayanan kesehatan.

“Puskesmas Bua adalah fasilitas kesehatan pertama yang menjadi tempat masyarakat memeriksakan kesehatannya. Terlebih pemerintah menjadikan sektor kesehatan sebagai salah satu fokus utama pelayanan kepada masyarakat,” tegas Andi Admiral. Dikutip media sindosulsel.com. Selasa18 Agustus 2026, Kabupaten Luwu, Sulsel.

Politisi PDI Perjuangan itu mengaku prihatin dengan munculnya keluhan masyarakat terkait pelayanan kesehatan, khususnya menyangkut ketersediaan obat-obatan yang seharusnya menjadi kebutuhan dasar dalam pelayanan medis. Menurutnya, kejadian tersebut tidak boleh dianggap sebagai persoalan biasa karena menyangkut hak masyarakat untuk mendapatkan layanan kesehatan yang layak.

“Dengan adanya kondisi ini, saya akan meminta pertanggungjawaban pemerintah dan meminta pemerintah melakukan evaluasi terkait pelayanan di Puskesmas Bua,” jelasnya.

Andi Admiral, mengingatkan, bahwa fasilitas kesehatan harus memiliki kesiapsiagaan yang lebih baik, terutama di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu dan berpotensi meningkatkan jumlah masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan.

“Harus memang puskesmas lebih siaga, apalagi dengan kondisi cuaca ekstrem seperti sekarang ini,” ungkapnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Luwu, juga menyayangkan terjadinya kekosongan obat di Puskesmas Bua. Dia dr Risnawary, menegaskan bahwa kondisi tersebut semestinya tidak terjadi, karena terdapat mekanisme pengadaan maupun pengambilan stok obat dari gudang farmasi.

“Kalau obat tidak ada, harusnya pengelola obatnya sudah antisipasi untuk segera mengampra di gudang atau mereka beli pakai operasional JKK-nya,” tegas Risnawary.

Ia juga menegaskan bahwa pasien tidak seharusnya dibebankan membeli obat sendiri di luar fasilitas kesehatan apabila terjadi kekosongan stok.

“Kalau ada notanya kasi ki ke puskesmas. Sudah juga saya sampaikan ke kapus, tidak ada pembelian obat di luar oleh pasien. Kalaupun ada kekosongan obat, puskesmas yang membeli, bukan pasien yang membeli obatnya,” pungkasnya.

Atas kasus ini memunculkan pertanyaan mengenai sistem pengelolaan logistik obat di tingkat puskesmas. 

Di tengah komitmen pemerintah meningkatkan kualitas layanan kesehatan, masyarakat berharap kejadian serupa tidak kembali terulang, terlebih ketika pasien yang membutuhkan pelayanan justru dihadapkan pada keterbatasan obat yang menjadi kebutuhan dasar pengobatan.

QMH. Yoga.**

TerPopuler