BONE-WARTASULSEL.Id lima tahun Land4Lives melaksanakan program mendampingi masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Bone, hari ini program Land4Lives resmi mengakhiri rangkaian kegiatannya di Kabupaten Bone. Sebagai kenang kenangan, kali ini menggelar
Dialog Multipihak Land4Lives yang bertajuk Meneguhkan Komitmen Bersama untuk Lanskap Sehat dan Masyarakat Sejahtera yang digelar di Hotel Novena, jalan Ahmad Yani, Kota Watampone, Selasa 6 Oktober 2026.
Kegiatan tersebut sebagai momentum penyerahan berbagai capaian, pengetahuan, praktik baik, serta dokumen perencanaan hasil pendampingan Land4Lives kepada Pemerintah Kabupaten Bone untuk dilanjutkan secara berkelanjutan.
Program Land4Lives merupakan proyek riset-aksi yang didukung Pemerintah Kanada melalui Global Affairs Canada dan dilaksanakan ICRAF Indonesia, yang kini menggunakan nama operasional Landscape Alliance.
Di Kabupaten Bone, kerja sama dengan pemerintah daerah dimulai sejak 2021, sementara kegiatan lapangan berlangsung sejak 2022 dengan melibatkan mitra lokal Yayasan Sulawesi Cipta Forum (SCF) dan Yayasan Lembaga Pengkajian Masyarakat Indonesia (YLPMI).
Di Bone, Land4Lives bekerja pada dua tingkat. Di tingkat tapak, proyek mendampingi 12 desa di tujuh kecamatan, yaitu Bontocani, Kahu, Patimpeng, Lappariaja, Ponre, Dua Boccoe, dan Cenrana. Mitra lokal mendampingi 24 desa lainnya. Di tingkat bentang lahan, proyek bekerja di Daerah Aliran Sungai (DAS) Bila Walanae seluas 744.896 hektare. Acara hari ini menyusul rangkaian penutupan kegiatan di tingkat desa yang berakhir di Desa Pakkasalo pada 5 Oktober 2026.
Setelah hampir lima tahun berkegiatan di Kabupaten Bone, Land4Lives telah meninggalkan banyak hasil.
Sebanyak 789 orang, 57 persen di antaranya perempuan, telah mengikuti pelatihan pertanian cerdas iklim. Mereka tergabung dalam 22 kelompok belajar. Praktik seperti peremajaan tanaman, pupuk organik, agroforestri, dan wanamina dapat dilihat di 36 kebun belajar agroforestri dan 10 tambak belajar. Pembelajaran ini disebarluaskan melalui enam Tapak Percontohan Pertanian Cerdas Iklim (TP2CI) yang dikelola lebih dari 120 petani pelopor dan terbuka bagi petani dari desa lain untuk berkunjung dan belajar tentang beragam praktik pertanian ramah lingkungan, mulai dari peremajaan kakao hingga merancang kebun dapur.
Untuk pangan keluarga, 506 rumah tangga kini mengelola kebun pekarangan dan 43 kebun pangan komunal telah dibangun. Sebanyak 605 warga, 73 persen di antaranya perempuan, mengikuti edukasi gizi dan pangan lokal.
Dari sisi ekonomi, terbentuk 34 kelompok usaha berbasis agroforestri dengan 968 anggota, 53 persen di antaranya perempuan. Bersama Dinas Koperasi dan UKM, kelompok-kelompok ini memperoleh Nomor Induk Berusaha (NIB) untuk 10 kelompok, izin P-IRT untuk 5 kelompok, dan sertifikat halal untuk 4 kelompok. Pupuk guano dari Desa Cabbeng juga telah memperoleh perlindungan kekayaan intelektual. Sebanyak 1.055 penerima manfaat telah terhubung ke pasar. Kakao dipasarkan melalui PT Mars, Sugata, dan Gudang 88, sedangkan pupuk guano terjual hingga Kalimantan dan Maluku.
Perhatian pada kesetaraan gender berjalan di sepanjang kegiatan. Desa Massila di Kecamatan Patimpeng menjadi desa rintisan Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak. Lewat program PAPA Gizi bersama DP3A dan DP2KB Kabupaten Bone, 65 fasilitator telah dilatih untuk mengajak para ayah ikut memperhatikan gizi keluarga. Empat desa dampingan, yaitu Turu Adae, Latellang, Massila, dan Waekeccee, kini terdaftar sebagai desa Program Kampung Iklim (ProKlim).
Sejumlah pendekatan Land4Lives kini telah diteruskan oleh pemerintah daerah dan mitra lokal. Hingga Juni 2026, mitra lokal SCF-YLPMI telah mereplikasi pelatihan pertanian cerdas iklim pada 48 kelompok belajar di 24 desa, dengan 1.441 anggota. Dinas Kesehatan memasukkan Isi Piringku Lokal ke layanan rutin 38 puskesmas.
Bersama Dinas Pendidikan, kurikulum muatan lokal “Pangan Lokal untuk Ketahanan Iklim” diujicobakan di 32 sekolah dengan 2.000 m