Mengurai Rahasia Bertahannya Sudut-Sudut Ekonomi Ikonik Bone: Kopi, Kuliner, dan Kebudayaan sebagai Pilar Ekonomi Lokal di Sulawesi Selatan
jmsi'
funrun'
dprd
dprd
hjs

Mengurai Rahasia Bertahannya Sudut-Sudut Ekonomi Ikonik Bone: Kopi, Kuliner, dan Kebudayaan sebagai Pilar Ekonomi Lokal di Sulawesi Selatan

Rabu, 24 Juni 2026,

Penulis: As'ad Bukhari, S.Sos., M.A. (ICMI Orwil Sulawesi Selatan)

BONEWARTASULSEL.Id. Di tengah derasnya arus globalisasi dan dunia modernisasi yang mengubah wajah perekonomian daerah, terdapat sejumlah ruang ekonomi lokal yang tetap bertahan dan bahkan berkembang di berbagai wilayah Indonesia.

Fenomena ini menarik untuk dikaji karena menunjukkan bahwa kekuatan ekonomi tidak selalu bertumpu pada industri besar atau investasi berskala nasional, melainkan juga dapat tumbuh dari aktivitas ekonomi berbasis budaya, tradisi, dan kearifan lokal. 

Kabupaten Bone di Sulawesi Selatan merupakan salah satu daerah yang memperlihatkan fenomena tersebut melalui keberadaan sudut-sudut ekonomi ikonik yang hidup dari aktivitas kopi, kuliner, dan kebudayaan masyarakatnya. Sebagai salah satu kabupaten tertua dan terbesar di Sulawesi Selatan, Bone memiliki sejarah panjang yang membentuk identitas sosial dan budaya masyarakatnya. Warisan sejarah Kerajaan Bone, tradisi Bugis yang masih terpelihara, serta semangat kewirausahaan masyarakat menjadi modal sosial yang kuat dalam menopang berbagai aktivitas ekonomi lokal. 

Di berbagai sudut kota maupun desa, warung kopi, pusat kuliner tradisional, pasar rakyat, hingga kegiatan budaya dan festival lokal tidak hanya menjadi ruang interaksi sosial, tetapi juga menjadi sumber penghidupan bagi banyak masyarakat.

Kopi khas Bone misalnya, telah berkembang bukan sekadar sebagai komoditas konsumsi, melainkan menjadi bagian dari budaya masyarakat Bone. Warung kopi menjadi ruang diskusi, pertukaran informasi, hingga tempat lahirnya berbagai gagasan sosial dan ekonomi. Di sisi lain, kuliner khas Bone seperti kapurung, songkolo, barobbo, dan berbagai makanan tradisional lainnya terus menarik minat masyarakat maupun wisatawan. 

Sementara itu, berbagai tradisi budaya, seni pertunjukan, dan kegiatan adat turut menciptakan peluang ekonomi melalui sektor pariwisata dan ekonomi kreatif yang berbasis pada identitas lokal. Menariknya, keberlangsungan sektor-sektor tersebut tidak hanya ditentukan oleh faktor ekonomi semata, tetapi juga oleh kuatnya ikatan budaya dan partisipasi masyarakat dalam menjaga warisan lokal. Ketika usaha kecil di berbagai daerah menghadapi tantangan akibat perubahan pola konsumsi dan persaingan modern, sejumlah sudut ekonomi ikonik di Bone justru mampu mempertahankan eksistensinya. Hal ini karena adanya kombinasi antara nilai budaya, inovasi pelaku usaha, serta dukungan sosial masyarakat yang menjadi fondasi ketahanan ekonomi lokal.

Kopi di Kabupaten Bone bukan sekadar minuman atau tren gaya hidup yang digemari berbagai kalangan. Lebih dari itu, kopi telah menjadi salah satu roda penggerak ekonomi lokal yang bernilai tinggi dan melibatkan banyak lapisan masyarakat. Di wilayah dataran tinggi seperti Kecamatan Bontocani, kopi arabika dan robusta tumbuh subur dalam lingkungan yang masih alami. Sebagian besar petani mengelola kebun kopi secara tradisional dengan meminimalkan penggunaan bahan kimia, sehingga menghasilkan kopi yang memiliki cita rasa khas dan kualitas yang kompetitif. 

Perjalanan kopi Bone tidak berhenti di tingkat produksi. Biji kopi yang dipanen oleh petani kemudian diolah dan dipasarkan melalui berbagai jaringan usaha lokal, mulai dari pengepul, pengolah, hingga pemilik kedai kopi. Kehadiran kedai-kedai kopi di pusat Kota Watampone dan berbagai kecamatan lainnya menjadi mata rantai penting yang menghubungkan produk lokal dengan konsumen. 

Tempat-tempat tersebut tidak hanya menawarkan secangkir kopi berkualitas, tetapi menjadi ruang interaksi sosial, diskusi, dan pertukaran gagasan bagi masyarakat. Bagi wisatawan yang berkunjung ke Bone, menikmati kopi lokal telah menjadi bagian dari pengalaman wisata yang menarik. Aroma kopi yang khas, cerita tentang proses budidayanya, serta suasana kedai yang mencerminkan identitas budaya setempat menjadikan kopi Bone memiliki nilai ekonomi sekaligus nilai budaya. 

Kopi tidak hanya berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan petani dan pelaku usaha, tetapi juga memperkuat citra Bone yang mampu mengembangkan potensi ekonomi berbasis kearifan lokal.

Kuliner Bone merupakan warisan budaya yang penuh kekayaan tradisi masyarakat Bugis dengan karakter cita rasa yang kuat dan kaya rempah. Beragam hidangan khas seperti Nasu Likku, yaitu olahan ayam kampung yang dimasak dengan bumbu rempah khas, Poppo, serta Lawa Bale yang berbahan dasar ikan segar, menghadirkan pengalaman wisata gastronomi yang autentik dan sarat nilai budaya. 

Setiap sajian tidak hanya menawarkan kelezatan, tetapi juga mencerminkan sejarah, kebiasaan, dan kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi. Keunikan kuliner Bone terletak pada kemampuannya mempertahankan cita rasa tradisional di tengah perkembangan zaman. 

Makanan-makanan khas tersebut tidak hanya disajikan dalam acara adat, perayaan keluarga, atau dapur rumah tangga, tetapi juga telah bertransformasi menjadi menu unggulan di berbagai rumah makan, pusat kuliner, dan destinasi wisata modern. Kondisi ini menunjukkan bahwa kuliner tradisional mampu beradaptasi dengan kebutuhan pasar tanpa kehilangan identitas aslinya. Lebih jauh,

 perkembangan sektor kuliner telah memberikan kontribusi nyata terhadap perekonomian lokal.  Aktivitas usaha kuliner menciptakan peluang kerja bagi pedagang, pelaku usaha mikro, petani, nelayan, hingga pengrajin produk pendukung. Kehadiran wisatawan yang tertarik mencicipi makanan khas Bone turut meningkatkan perputaran ekonomi masyarakat. Dengan demikian, kuliner tidak hanya berfungsi sebagai pemenuh kebutuhan konsumsi, tetapi juga menjadi aset ekonomi kreatif yang memperkuat daya saing daerah sekaligus menjaga keberlanjutan warisan budaya Bone.

Di balik bertahannya sektor ekonomi lokal di Bone, terdapat kekuatan budaya yang menjadi fondasi utama karakter masyarakatnya. Kebudayaan Bugis yang diwariskan secara turun-temurun mengandung nilai-nilai filosofis yang tidak hanya mengatur kehidupan sosial,  tetapi juga membentuk etos kerja dan semangat kewirausahaan. Nilai-nilai tersebut tercermin dalam Pappaseng (petuah leluhur) dan sistem nilai Pangngaderreng, yang menjadi pedoman moral dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat maupun aktivitas ekonomi.

 Beberapa nilai utama yang masih hidup dalam masyarakat Bone antara lain reso (kerja keras dan pantang menyerah), lempu (kejujuran), getteng (keteguhan dan konsistensi), serta ada tongeng (keselarasan antara perkataan dan perbuatan). Nilai-nilai tersebut membentuk karakter pelaku usaha yang tangguh, dapat dipercaya, dan mampu bertahan menghadapi berbagai tantangan ekonomi. Bagi masyarakat Bugis, keberhasilan usaha tidak hanya diukur dari keuntungan yang diperoleh, tetapi juga dari kemampuan menjaga integritas, amanah, dan kehormatan diri di tengah persaingan.

Budaya kerja yang berlandaskan nilai-nilai tersebut menjadi modal sosial yang sangat penting dalam menjaga keberlanjutan usaha-usaha lokal, mulai dari sektor pertanian, perdagangan, kuliner, hingga ekonomi kreatif.

 Tidak mengherankan apabila banyak pelaku usaha di Bone mampu mempertahankan usahanya selama bertahun-tahun karena didukung oleh kepercayaan pelanggan dan jaringan sosial yang kuat. Pemerintah Kabupaten Bone turut berperan dalam memperkuat semangat kewirausahaan masyarakat melalui berbagai kebijakan dan program pemberdayaan ekonomi. Berbagai bentuk dukungan seperti bantuan permodalan bagi pelaku usaha mikro dan kecil, pelatihan UMKM berbasis digital, pendampingan usaha, serta kemudahan perizinan terus dikembangkan untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif. 

Sinergi antara nilai budaya yang mengakar kuat dan dukungan pemerintah inilah yang menjadi salah satu rahasia bertahannya sudut-sudut ekonomi ikonik Bone. Dengan demikian, kebudayaan tidak hanya berfungsi sebagai identitas masyarakat, tetapi juga menjadi sumber kekuatan ekonomi yang mendorong kemajuan daerah secara berkelanjutan.

Keberpihakan pemerintah kepada pelaku usaha kecil menjadi faktor penting dalam menciptakan ruang ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Pemerintah menyadari bahwa kekuatan ekonomi lokal sesungguhnya bertumpu pada masyarakat dan pelaku usaha kecil yang menjadi penggerak utama perputaran ekonomi di tingkat akar rumput. Berbagai program pembangunan yang dijalankan dirancang berdasarkan kebutuhan nyata.

 Upaya tersebut tercermin dalam percepatan pembangunan infrastruktur jalan, peningkatan kualitas layanan administrasi kependudukan, serta berbagai kebijakan yang bertujuan memperluas akses masyarakat terhadap layanan publik dan peluang ekonomi. Dengan dukungan infrastruktur yang semakin memadai dan keberadaan ruang publik yang produktif seperti lapangan merdeka bone, kolaborasi antarkomunitas, pelaku usaha, pemerintah, dan masyarakat memiliki peluang besar untuk berkembang. Kolaborasi inilah yang menjadi modal sosial penting dalam membangun ekonomi daerah yang tangguh, inklusif, dan mampu menghadapi berbagai tantangan pembangunan di masa depan. 

Oleh karena itu, upaya mengurai faktor-faktor yang menyebabkan bertahannya sudut-sudut ekonomi ikonik di Kabupaten Bone. Melalui kajian terhadap budaya kopi, kuliner tradisional, dan aktivitas kebudayaan, tulisan ini bertujuan menunjukkan bahwa ekonomi lokal yang berakar pada identitas budaya memiliki daya tahan yang kuat serta berpotensi menjadi model pembangunan ekonomi berkelanjutan di tingkat daerah. Dengan memahami kekuatan tersebut,

 Bone dapat terus mengembangkan potensi lokalnya sebagai pusat pertumbuhan ekonomi yang tidak hanya produktif, tetapi juga mampu menjaga nilai-nilai budaya yang menjadi jati diri masyarakatnya. Bertahannya sudut-sudut ekonomi ikonik di Kabupaten Bone bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hasil dari perpaduan harmonis antara potensi sumber daya lokal, 

 kekayaan budaya, dan semangat kewirausahaan masyarakat. Kopi, kuliner, dan kebudayaan telah berkembang menjadi tiga pilar utama yang menopang kehidupan ekonomi masyarakat sekaligus memperkuat identitas daerah di tengah arus modernisasi dan persaingan ekonomi yang semakin dinamis. Kopi Bone yang berasal dari kawasan dataran tinggi seperti Bontocani menunjukkan bagaimana komoditas lokal dapat memiliki nilai ekonomi tinggi ketika dikelola secara berkelanjutan dan dipadukan dengan kreativitas pelaku usaha. 

Di sisi lain, kuliner khas Bone tidak hanya menjadi warisan budaya yang terus dilestarikan, tetapi juga berkembang sebagai sektor ekonomi kreatif yang mampu menarik minat masyarakat dan wisatawan. Sementara itu, nilai-nilai budaya Bugis yang tercermin dalam  Pappaseng dan Pangngaderreng membentuk karakter masyarakat yang menjunjung tinggi kerja keras, kejujuran, keteguhan, dan tanggung jawab dalam menjalankan aktivitas ekonomi.

Keberhasilan mempertahankan eksistensi sektor-sektor tersebut juga tidak terlepas dari dukungan pemerintah daerah melalui berbagai program pemberdayaan UMKM, pelatihan digital, bantuan permodalan, serta penciptaan iklim usaha yang lebih kondusif. Kolaborasi antara masyarakat, pelaku usaha, dan pemerintah telah melahirkan ekosistem ekonomi lokal yang tangguh dan berdaya saing. 

 Demikianlah rahasia bertahannya sudut-sudut ekonomi ikonik Bone terletak pada kemampuannya menjaga keseimbangan antara tradisi dan inovasi. Pengalaman Bone menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi yang berakar pada budaya lokal tidak hanya mampu menciptakan kesejahteraan masyarakat, tetapi juga menjadi strategi penting dalam menjaga identitas daerah dan mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan. Oleh karena itu, kopi, kuliner, dan kebudayaan perlu terus dijaga, dikembangkan, dan dipromosikan sebagai aset strategis yang dapat mengantarkan Bone menuju masa depan yang lebih maju, mandiri, dan sejahtera.(*)

TerPopuler