Menghidupkan Amanah Jejak Leluhur Menuju Bone Manurung, Bone Al-Munawwar
bola'
jmsi'
kesaktian

Menghidupkan Amanah Jejak Leluhur Menuju Bone Manurung, Bone Al-Munawwar

Jumat, 09 Oktober 2026,

Penulis : Andi Ahmad Temmaukke Daeng Mutawalli

MAKASSAR-WARTASULSEL.Id. Bangsa yang agung bukan hanya yang meninggikan bangunan masa depannya, tetapi yang mengenal asal-usulnya, memuliakan para leluhurnya, dan menjaga peninggalannya agar tidak ditelan zaman. Dengannya, mereka hidup sepanjang zaman.

Zaman ini terbiasa mengukur kemajuan dengan penilaian mata. Gedung yang menjulang, jalan yang melebar, teknologi canggih, kawasan modern yang tertata. Padahal ada timbangan yang lebih senyap, yaitu sejauh mana sebuah bangsa sanggup menjaga apa yang tidak boleh hilang dari masa silamnya. Pembangunan bukan perlombaan menghapus yang lama demi yang baru. Ia ikhtiar menghadirkan hari esok tanpa kehilangan jati diri. Bangunan yang didirikan akan lapuk oleh masa, tetapi kearifan yang dijaga akan menjadi pelita bagi mereka yang datang kemudian.

Sejarah bukan sekadar kisah orang yang telah wafat, bukan pula sekadar nama, tanggal, dan batu tua. Ia ingatan bersama sebuah kaum, tempat bersemayam perjuangan, pengorbanan, iman, adat, dan martabat yang membentuk kita hari ini. Maka peninggalan leluhur, baik saoraja tempat para raja bermusyawarah, rumah-rumah tua, masjid dan surau lama, benteng, gerbang, makam, maupun tanah-tanah yang menjadi saksi, bukanlah benda mati. Masing-masing adalah lembaran yang masih terbuka. Bila ia dirobohkan, yang runtuh bukan hanya dinding dan atap, melainkan sebagian ingatan kita.

Dahulu, agama dan adat berjalan beriringan, laksana sepasang sayap yang saling menjaga dan saling memelihara. Keduanya tak pernah dihadapkan untuk dipertentangkan, apalagi saling menyalahkan. Para ulama salaf terdahulu sangat memahami hal ini. Di antara ulama besar yang menanamkan pondasi dan pilar keislaman di Bumi Bone sejauh mata memandang ialah Syaikh Yusuf Abul Mahasin Hadiyatullah Tajul Khalwatiyah, Syaikh Abul Fath Abdul Bashir Adh-Dhariri Ar-Raffani Tuan Rappang, Syaikh Abdul Majid Nuruddin, Syaikh Sa'id Abu Fudhail, Syaikh Abdul Gaffar Assegaf, Syaikh Faqih Amrullah, Syaikh Isma'il, Syaikh Isma'il bin Abdullah, Jennang To Bala, Syaikh Arab Harun, Syaikh Al-Faqih Yusuf, KH. Pesona, KH. Ahmad, Syaikh Abdullah Bafadal, Abdullah La Sanre, Syaikh Muhammad bin Yahya Al-Bugisi Al-Buni, Syaikh Abdul Hayy, Al-Faqih Syaikh Abdul Majid bin Abdul Hayyi, dan masih banyak lagi para ulama Bone salaf lainnya. 

Mereka menyebarkan Islam tanpa menyalahkan tradisi yang ada, bahkan menjadikannya jembatan dakwah, sehingga cahaya Islam sampai dengan mudah ke pelosok negeri. Mereka dan para raja penguasa negeri ini menjadi mitra dakwah yang saling memuliakan. 

Mereka diangkat menjadi qadhi dan mufti kesultanan, bahkan menjadi guru, masyayikh, dan murabbi keluarga kerajaan  dan di antara mereka, para ulama ahlul bait dinikahkan dengan putri raja. 

Para ulama terdahulu itu selalu mendahulukan adab daripada tulisan.

Dari kegigihan dan ketulusan mereka berdakwah tanpa pamrih, lahirlah para pangeran yang kelak menjadi pemimpin, raja, panglima, dan pejabat, pemimpin yang alim dan menyayangi rakyatnya. Lahirlah La Tenriruwa Sultan Adam Matinroé ri Bantaéng, yang lebih memilih menjadi dai dan sufi, La Maddaremmeng Sultan Muhammad Shalih, pendiri Paréwa Sara' Kerajaan, La Tenritatta Arung Palakka Sultan Sa'aduddin, Sang Pembebas, La Patau Matanna Tikka Sultan Muhammad Idris Azhimuddin, badal khalifah dari Tuan Rappang; La Pareppai Sultan Isma'il, raja tiga negeri dan La Temmassonge Sultan Abdul Razzaq Jalaluddin, mitra dakwah Syaikh Abdul Gaffar Waliyuddin Assegaf, hingga sendi ruhaniyah keimanan kian tersebar di kalangan bangsawan dan masyarakat di seluruh wilayah Kesultanan Bone, termasuk Gorontalo, Donggala, Palu, dan sekitarnya.

Bahkan jauh sebelum mereka semua, hadir Raja Bone pertama yang tak diketahui asal-usul maupun namanya, hanya tertulis dalam lembaran naskah tua, sosok lelaki bijak bergelar "Mata Silompoé Manurungngé ri Matajang". Ia datang sebagai cahaya dan penyejuk Negeri Bone di kala masa zhulumat, masa "sianré balé" ( ketika yang kuat memangsa yang lemah). Sebagian aristokrat keturunan Raja Bone dan para ulama meyakininya sebagai seorang waliyullah yang datang mengenalkan kepada masyarakat Bone kala itu makna hidup yang sebenarnya. Dengan begitu, masyarakat yang semula selalu berperang, adu kuat, dan saling bunuh, menjadi masyarakat yang rukun, damai, saling menyayangi, saling menghargai, saling menjaga, saling menolong, dan saling mengingatkan.

Dari keturunan mereka semua, terlahirlah seorang pemuda bernama Ahmad, yang akrab dikenal sebagai La Tenri Tappu, kelak bergelar Sultan Ahmad Ash-Sholih Syamsuddin, sang "Matahari Agama",  pemuda alim yang diangkat menjadi raja, raja yang saleh, arif billāh, yang sejak masa mudanya telah tampak tanda kesalehan pada dirinya. Pada masa pemerintahannya, Islam sungguh hadir dalam tatanan bernegara, adat dan tradisi menjadi tumpuan, ilmu pengetahuan berkembang pesat, dan negeri hidup damai. Bahkan Bone menjadi pembebas bagi negeri tetangga sekaligus saudaranya, Kerajaan Gowa.

Begitulah negeri ini dahulu, sebuah negeri besar yang sangat religius dan beradab. Dari sayap yang satu terbit tuntunan, dari sayap yang lain terjaga tatanan, dengan keduanya, negeri ini terbang tinggi tanpa kehilangan arah.

Cahaya itu pun tak pernah benar-benar padam. Bahkan di fase akhir, Bone masih memiliki ulama sekaliber KH. Muhammad Junaid Sulaiman, putra KH. Muhammad Sulaiman, Qadhi Kerajaan Bone ke-18, sekaligus adik kandung KH. Muhammad Rafi Sulaiman, Qadhi Bone ke-20. Begitu pula KH. Ahmad As-Surur yang aktif berdakwah di Pompanua, Wajo, dan sekitarnya, melanjutkan perjuangan leluhurnya, Syaikh Abdul Majid Al-Bugisi, rahimahumullah.

Bone adalah negeri ulama yang dalam pemahaman agamanya, hanya saja tidak terekspos ke luar karena mereka senantiasa menjauhkan diri dari sorotan kemasyhuran. Nama harum mereka hidup di dalam hati para salik yang dahaga akan mahabbah kepada Allah dan Rasulullah SAW. Bone tak perlu diajari cara beragama, sungguh kebodohan seekor ayam hendak mengajari burung elang terbang.

Yang hilang di Bone bukanlah para ulamanya, melainkan adab, pangadereng, kecintaan kepada ahlul bait, ulama, dan keturunannya. Hilang pula ade', sipakatau, sipakalebbi, sipakaraja, siamaséi, sipatokkong, dan sipakainge' antar sesama. Pemerintah dan para bangsawan berjalan sendiri, para keturunan qadhi, ahlul bait, dan ulama pun berjalan sendiri. Sebagian baru belajar agama, sebagian lain membawa tradisi baru. Para bangsawan keturunan to décéng mappidécéng menjadi centang-perenang, tak tentu arah. Tak ada assedingeng ati, kesatuan hati, sesama mereka saling tak menghargai. Ade' dan sara' pun hilang kini. Dua sayap negeri ini patah oleh tangan para wija (keturunan) yang mulia itu sendiri.

Maka alangkah ganjilnya bila, di tengah sayap yang patah itu, masih ada yang mengatasnamakan agama untuk melenyapkan situs-situs yang dahulu dirawat oleh para alim dan raja yang saleh.

Pembangunan tidak untuk ditolak. Umat memerlukan rumah ibadah yang layak, jalan, sekolah, rumah sakit, dan ruang bersama kota dan daerah pun memerlukan perencanaan, tata kelola, dan pengembangan. Namun benarkah setiap kemajuan harus memilih antara maju dan menjaga? Bila setiap pembangunan mesti menghancurkan situs bersejarah, tak akan tersisa lagi media nyata untuk menyelami kehidupan masa lampau, mengenal watak para leluhur, dan mengenang jasa para pendiri negeri. Yang tinggal hanyalah buku-buku tua di lemari, itu pun bila ada yang sudi membacanya.

Lihatlah Turki, negeri yang sarat sejarah dan pewaris peradaban besar. Ia negeri modern yang membangun di mana-mana, masjid, madrasah, universitas, hingga gedung-gedung tinggi nan canggih. Namun di tengah derap pembangunan itu, mereka tetap beradab kepada leluhurnya. Istana, masjid, dan makam para sultan dirawat dengan hormat, manuskrip-manuskrip tua dipelihara, dan artefak sejarah dijaga. Mereka tetap membangun, tetapi tetap beradab, tetap membangun tanpa menghancurkan.

Saksi paling agung adalah Hagia Sophia. Ia dibangun sebagai gereja agung Kristen Ortodoks oleh Kekaisaran Romawi Timur, bukan istana Kaisar Konstantin. Pertama kali diresmikan pada 360 M oleh Kaisar Konstantius II, putra Konstantin Agung, lalu dibangun ulang dengan megah oleh Kaisar Justinianus I pada 537 M. Ketika Sultan Mehmed II, Al-Fatih, menaklukkan Konstantinopel pada 1453, ia tidak merobohkannya. Bangunan itu dijadikan masjid agung kesultanan, dilengkapi mihrab dan menara, sementara mosaik-mosaik Kristennya ditutup plester.
Pada 1935, di masa Republik di bawah Mustafa Kemal Atatürk, ia dijadikan museum dan plester itu dikupas hingga mosaik kuno kembali terlihat. Sejak Juli 2020, di masa kepemimpinan Recep Tayyip Erdoğan, status museum dicabut dan ia kembali berfungsi sebagai masjid, tetap terbuka bagi wisatawan dengan aturan kunjungan khusus. Zaman berganti, penguasa berganti, fungsi dan keyakinan pun berganti, tetapi bangunan itu tetap berdiri. Mereka paham bahwa nilai sejarah tak terukur oleh berapa triliun pun anggaran pembangunan.

Bayangkan kelak anak cucu bertanya, "Di mana saoraja itu? Di mana rumah tua dan makam leluhur kita?" lalu yang mampu dijawab hanyalah, "Dahulu pernah ada." Mungkin telah berdiri bangunan yang lebih megah, tetapi hilang sesuatu yang tak terbeli oleh beton dan anggaran sebesar apa pun, keaslian sejarah. Replika dapat dibuat, monumen dapat didirikan, tulisan dapat dicetak ulang, namun suasana, konteks, dan kesaksian sebuah tempat, sekali dihancurkan, tak akan kembali. Zaman ini gemar menyimpan nama sambil melupakan tempat yang melahirkannya. Nama tanpa jejak menjadi dongeng, jejak tanpa perlindungan menjadi kenangan, dan jejak yang sungguh dijaga menjadi pelajaran.

Adapun adab kepada leluhur, sebagaimana para ulama terdahulu mendahulukan adab daripada tulisan, hendaklah mereka dimuliakan dengan doa sebelum pujian, dengan menjaga sebelum menziarahi, dan dengan meneladani sebelum membanggakan. Jangan merendahkan peninggalan mereka, jangan menghapus jejak mereka atas nama kemajuan, dan jangan pula mengkultuskannya hingga melampaui batas. Tanyailah para pemangku adat dan ulama, rangkullah keluarga dan masyarakat yang terikat sejarah dengan tempat itu, dan dengarkan suara hati nurani. Sebab tidak semua yang mungkin secara teknis layak secara akhlak, dan ilmu yang tak dituntun hikmah mudah menjelma kelalaian.

Terlebih di zaman ini, ketika fitnah merebak di mana-mana dan hedonisme menggerogoti pilar keimanan, jejak leluhur menjadi jangkar yang menahan kita dari hanyut. Bila ia dihapus, semuanya tinggal cerita, itu pun bila masih ada yang bercerita, dan sebuah bangsa kehilangan jati diri sejatinya, terwarnai oleh zaman. Padahal para leluhur berharap keturunannya tetap hidup di setiap masa, laksana ikan hidup yang tidak menjadi asin meski berenang di kedalaman laut yang asin: tak terpengaruh, tak terwarnai oleh zaman segila apa pun.

Maka jagalah yang masih tersisa, sebab itulah amanah bersama. Jangan menunggu semuanya lenyap baru menyadari nilainya. Amanah ini bukan beban satu keluarga atau satu golongan, melainkan tanggung jawab pemerintah, tokoh agama, pemangku adat, akademisi, dan seluruh masyarakat. Setiap generasi kelak menjadi masa lalu bagi generasi berikutnya; hari ini kita penjaga, esok kita menjadi bagian dari yang dijaga. Bangunlah masa depan setinggi langit, tetapi jangan hapus tanah tempat sejarah berpijak, agar generasi yang belum lahir kelak dapat melihat, menyentuh, dan berkata:

"Di sinilah dahulu jejak mereka berada, dan generasi sebelum kami memilih untuk menjaganya."_

Namun menjaga jejak di luar tidak akan sempurna tanpa memperbaiki yang di dalam. Yang diperlukan Bone kini adalah ishlah, muhasabah, perbaikan diri, dan kesadaran untuk kembali menautkan hati sesama, berpijak pada assitinajangeng. Sayap yang patah tidak akan pulih dengan saling menuding, melainkan dengan menengok ke dalam diri masing-masing. Setiap wija hendaknya segera menyucikan diri, lalu menyambungkan diri kepada ruhani para leluhur yang saleh. Hidupkan kembali seluruh amalan ruhani. Kembalikan rebba sipatokkong, mali siparappé, malilu sipakainge'. Budayakan sipakatau, sipakalebbi, dan siamaséi. Budayakan siri' dalam segala hal, sebab manusia yang tak lagi memiliki rasa malu telah kehilangan kehormatan kemanusiaannya.

Dengan begitulah kita obati dua sayap itu agar kembali mampu terbang mengangkasa menuju Bone Manurung Al-Munawwar.

Barangkali negeri ini merindukan terlahirnya kembali Syaikh Yusuf Tajul Khalwatiyah yang baru, sang "Matahari Agama", Syaikh Ahmad Ash-Sholih yang baru;l,  Sultan Sa'aduddin yang baru, dan Al-Faqih Syaikh Abdul Majid Al-Bugisi Al-Buni yang baru. Namun sosok-sosok agung selalu tumbuh di tanah yang subur oleh adab. Maka sebelum menanti kelahiran mereka, mulailah dari diri sendiri, bermuhasabah, memperbaiki diri, dan memantaskan diri menjadi tanah tempat kebaikan itu kembali tumbuh.(*)

TerPopuler