BONE.WARTASULSEL.ID- Komisi IV DPRD Kabupaten Bone dalam gelaran Rapat Kerja bersama OPD mempertanyakan permasalahan terkait warga Sinjai yang membonceng jenazah anaknya kepada Manajemen RSUD Datu Pancaitana, Rabu 2 Pebruari 2022 di ruang Rapat Komisi IV DPRD Kabupaten Bone.
Terkait hal itu Komisi IV DPRD Bone memanggil pihak manajemen Rumah Sakit Pancaitana untuk dimintai keterangannya mengenai permasalahan tersebut.
Ketua Komisi IV DPRD Bone, Andi Ryad Padjalangi didampingi Wakil Ketua, A. Muh. Salam, Rangga Risa Swara, A. Wahyu A Herman Sampara, Bendahara, A. Purnama Sari dan anggota lainnya. Dalam hal tersebut, A. Ryad menyesalkan kejadian yang sudah viral, sehingga meminta RSUD Datu Pancaitana melakukan evaluasi terhadap pelayanan Manajemennya.
“Saya Minta perbaiki pelayanan ta, jangan sampai adapi orang permasalahkan baru bagus pelayananya , jangan dilaporpi di media baru bagus pelayananta, , kita sangat malu akan kejadian ini karena sudah jelas mencederai nama baik Kabupaten Bone”, tuturnya.
Andi Ryad juga mengatakan, “bahwa ini merupakan surat peringatan SP3 terakhir dari DPRD Bone terhadap Rumah Sakit Pancaitana.Jika kita temukan pelanggaran, tindakan tegas,akan kita ambil", tegas Andi Ryad.
Ditempat yang sama, A. Muh. Salam mengatakan tidak bisa juga menyalahkan sopir mungkin hanya menjalankan prosedur yang ada , ini hanya persoalan tidak melapor kepimpinannya sang sopir.
“Kedepannya nanti penanganan biaya ambulance tidak di pegang lagi oleh sopir ambulance, sehingga tidak terjadi persoalan seperti ini", Harap A. Salam.
Anggota komisi IV lainnya, Andi Purnama Sari meminta pihak manajemen RS Datu Pancaitana agar bekerjasama dengan mobil layanan sosial yang ada di luar supaya masyarakat yang tidak mampu dapat pelayanan yang baik ketika mobil ambulance dibutuhkan tidak ada ditempat", sarannya.
Sementara pihak Manajemen RSUD Datu Pancaitana telah mendatangi pihak keluarga Asdar, menyampaikan permohonan maaf dan berjanji akan melakukan evaluasi .bahkan di depan wartawan seusai rapat direktur RS Pancaitana langsung meminta maaf melalui media elektronik dan media online kepada keluarga Asdar dengan apa yg dialami semoga ini tak terulang lagi.
RSUD Datu Pancaitana rupanya memiliki anggaran bahan bakar minyak (BBM) dan pelumas. Totalnya mencapai Rp 69. 127. 000, lantas biaya yang dibebankan kepada pasien untuk apa ?
Hal ini pun dipertanyakan oleh Anggota Komisi IV DPRD Bone, Rangga Risa Swara.
Ia mempertanyakan, dasar penetapan tarif penggunaan ambulance milik RSUD Datu Pancaitana. Sebab, yang diketahuinya ada anggaran untuk operasional bahan bakar ambulans. Sehingga yang diharapkan sebetulnya anggaran ini dapat menutupi biaya operasional ambulans RSUD Datu Pancaitana dalam melayani masyarakat.
Rangga menyebut, belanja BBM dan pelumas ambulans RS Dari Pancaitana sebesar Rp 69.127. 000, dalam setahun. Bahkan terpisah antara bensin dan solar. Masing-masing: solar sebesar Rp. 6. 729. 000, dan bensin Rp. 58, 005. 090, setahun.
“Itu kalau dibagi perbulannya cukup tinggi. Maksud saya mengapa sopir bisa menetapkan tarif sebesar itu", seru Rangga.
Sementara itu, Direktur RSUD Datu Pancaitana Bone drg Syamsiar menerangkan penetapan tarif penggunaan ambulans telah diatur dalam peraturan daerah (PERDA). Penetapannya sebesar Rpb4.000 per kilometer dan biaya pangkal sebesar Rp70. 000.
“Itu perhitungannya ada di PERDA. Kalau mau lihat, ada di situ,", imbuhnya.
Terkait besaran tarif mencapai Rp700 ribu yang disebutkan sopir, Syamsiar menjelaskan, hal tersebut karena pasien menyebut sampai Kajang. Sehingga sopir menganggap jaraknya cukup jauh setelah berhitung.
Sekedar diketahui, warga Kabupaten Sinjai bernama Asdar, membonceng jenazah bayinya menggunakan sepeda motor di waktu Ahad malam berboncengan dengan saudaranya menuju Dusun Batu Lappa, Kelurahan Samataring, Kecamatan Sinjai Timur, pasalnya sopir ambulance Rumah Sakit Datu Pancaitana meminta uang sebesar Rp.700 ribu, namun Asdar meminta kebijaksanaan Rp. 100. 000, karena dia hanya membawa uang Rp. 600. 000, namun sayangnya si sopir ambulans tidak merespon dan tidak melaporkan keatasannya juga.
Asdar yang berprofesi sebagai pekerja buruh lepas ini, terpaksa membonceng jenazah bayinya bersama sang kakak berangkat dari RS. Datu Pancaitana, Kabupaten Bone sekitar pukul 21.00 WITA, Ahad malam dengan kondisi jenazah dibungkus sarung dan tiba dikediamannya pada pukul 22.30 WITA.
Diketahui, Bayi pasangan Asdar dan Juliatun Mariani di rujuk ke RSUD Datu Pancaitana setelah alat bantu pernapasan yang disebut dengan continuous positive airway pressure (CPAP) semua terpakai di RSUD Sinjai dengan diagnosa berat badan bayi tersebut kurang dan berat badan lahir rendah atau bayi Prematur.
**QMH*AHAS**

