PALOPO. WARTA SULSEL. ID - Perkembangan geopolitik di Timur Tengah kembali memperlihatkan bahwa dunia hari ini masih berada dalam pusaran krisis imperialisme global. Ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel bukan sekadar konflik regional atau persoalan identitas, melainkan bagian dari pertarungan struktur ekonomi-politik dunia yang timpang.
Di tengah eskalasi tersebut, dunia dikejutkan oleh wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Peristiwa ini menambah babak baru dalam dinamika politik global dan meningkatkan ketidakpastian di kawasan yang sejak lama menjadi pusat perebutan kepentingan energi dunia.
I. Belasungkawa dan Solidaritas Kemanusiaan
Dengan hati yang diliputi duka, kami menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Ali Khamenei. Di tengah denting senjata dan bara konflik, satu hal yang tidak boleh hilang adalah kemanusiaan. Setiap nyawa yang pergi adalah pengingat bahwa dunia ini bukan milik para penguasa dan mesin perang, melainkan milik umat manusia seluruhnya.
Sebagaimana sabda Nabi .
“Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi adalah seperti satu tubuh; apabila satu bagian sakit, maka seluruh tubuh turut merasakan sakit.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dan dalam Al-Qur’an ditegaskan:
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.”
(QS. Al-Hujurat: 13)
Serta dalam Alkitab :
“Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita dan menangislah dengan orang yang menangis.” (Roma 12:15)
Nilai ini sejalan dengan semangat internasionalisme yang ditegaskan oleh Karl Marx dan Friedrich Engels:
“Workers of the world, unite!”
Seruan tersebut menegaskan bahwa umat manusia pada hakikatnya satu. Kita mungkin dipisahkan oleh batas negara, tetapi dipertemukan oleh nasib sejarah yang sama: menghadapi ketidakadilan, eksploitasi, dan perang.
II. Pendekatan Historis Ekonomi Politik
Konflik Iran dan Barat tidak lahir secara tiba-tiba. Tahun 1953, pemerintahan nasionalis Iran yang menasionalisasi minyak digulingkan melalui operasi yang didukung kekuatan Barat. Sejak saat itu, Iran berada dalam orbit dominasi global yang bertumpu pada kepentingan energi.
Pada 1979, melalui Revolusi Iran 1979, rezim pro-Barat tumbang dan Iran keluar dari kendali langsung hegemoni tersebut. Namun langkah itu diikuti oleh sanksi, embargo, dan tekanan militer yang berkepanjangan.
Dalam perspektif yang dijelaskan oleh Vladimir Lenin, imperialisme adalah tahap ketika kapital finansial dan monopoli global menguasai dunia melalui kontrol sumber daya, dominasi militer, dan ekspansi pasar. Timur Tengah menjadi pusat perebutan karena minyak adalah jantung produksi kapitalisme modern.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran mencerminkan pertarungan lebih luas antara negara inti sistem kapitalisme global dan negara pinggiran yang berupaya mempertahankan kedaulatan ekonominya.
III. Dampak bagi Dunia dan Indonesia
Konflik di kawasan ini berdampak langsung pada:
Lonjakan harga minyak dunia
Inflasi pangan dan energi Tekanan fiskal negara berkembang Negara seperti Indonesia berada pada posisi rentan dalam sistem dunia. Setiap eskalasi di Timur Tengah berarti beban tambahan bagi rakyat kecil melalui kenaikan harga dan tekanan ekonomi.Krisis global seringkali tidak ditanggung oleh elite politik, melainkan oleh kelas pekerja dan rakyat miskin di berbagai negeri.
IV. Sikap Politik LMND Palopo
Berdasarkan analisis tersebut, LMND Palopo menyatakan:
- Menyampaikan belasungkawa kepada rakyat Iran atas wafatnya Ali Khamenei.
- Menolak segala bentuk agresi militer dan intervensi yang memperpanjang konflik.
- Mengecam penggunaan perang sebagai instrumen akumulasi kapital industri militer global.
- Mendukung hak setiap bangsa untuk menentukan nasibnya tanpa tekanan kekuatan besar.
- Mengajak kaum muda dan rakyat Indonesia memahami konflik global secara struktural, bukan terjebak pada narasi sektarian.
Penutup
Sejarah mengajarkan bahwa ketika sumber daya diperebutkan, rakyatlah yang paling sering menjadi korban. Di tengah duka dan ketegangan global, perjuangan untuk keadilan dan perdamaian yang berlandaskan kedaulatan serta solidaritas internasional tetap menjadi agenda yang belum selesai.
Dunia ini bukan milik segelintir kekuatan besar. Dunia ini milik umat manusia.
*QMH. Yoga.**