BONE-WARTASULSEL.Id. Sejarah Kerajaan Bone merupakan salah satu mata rantai penting dalam perjalanan peradaban Bugis di Sulawesi Selatan. Di dalam lintasan sejarah panjang itu, nama La Tenri Ruwa memiliki posisi tersendiri, terutama dalam kaitannya dengan momentum Islamisasi Bone pada tahun 1611.
Masa pemerintahannya menjadi bagian penting dari fase transisi besar masyarakat Bone dari sistem kepercayaan tradisional menuju tatanan kerajaan yang mulai dipengaruhi nilai-nilai Islam.
Dalam berbagai catatan lontara’ Bugis, ternyata Islamisasi Bone tidak dipahami sekadar sebagai perpindahan agama, melainkan sebagai perubahan sosial, budaya, dan politik yang sangat mendasar. Karena itu, memahami sosok La Tenri Ruwa sepantasnya tidak cukup hanya menempatkannya sebagai seorang raja, tetapi juga sebagai figur sejarah yang berada di tengah pergolakan perubahan peradaban di tanah Bone pada awal abad ke-17.
Para pemerhati sejarah Bone tentunya tahu benar, bahwa masuknya Islam ke Sulawesi Selatan berlangsung melalui jalur perdagangan, hubungan antar kerajaan, dan dakwah ulama dari luar Nusantara bagian timur.
Dalam historiografi Sulawesi Selatan tercatat dengan baik, terdapat tiga ulama besar Minangkabau yang disebut Datuk Tallua, yakni Abdul Makmur Khatib Tunggal, Sulaiman, dan Abdul Jawad. Ketiganya memainkan peran penting dalam penyebaran Islam di jazirah Sulawesi Selatan pada awal abad ke-17.
Dalam masa itu Kerajaan Gowa menjadi kerajaan besar pertama yang menerima Islam secara resmi sekitar tahun 1605 di bawah pemerintahan Sultan Alauddin. Setelah itu, pengaruh Islam semakin berkembang dan menjangkau kerajaan-kerajaan Bugis lainnya, termasuk Bone.
Namun diketahui proses, Islamisasi Bone tidak berlangsung sederhana. Dalam berbagai catatan lontara’ ternyata didapati keterangan, bahwa Bone saat itu masih sangat kuat mempertahankan sistem ade’ atau adat leluhur.
Struktur sosial dan politik, masyarakat Bugis dibangun di atas penghormatan terhadap tradisi yang telah diwariskan turun-temurun. Karena itu, kehadiran Islam pada masa tersebut dipandang sebagai perubahan besar yang tidak hanya menyentuh aspek spiritual, tetapi juga tatanan kekuasaan dan budaya kerajaan.
Di masa-masa seperti inilah La Tenri Ruwa sebagai Raja Bone ke-11 yang memerintah sekitar tahun 1611. Situasi pemerintahannya berada dalam suasana politik yang kompleks terkhusus ketika hubungan Bone dengan Gowa yang sedang mulai berkembang menjadi salah satu kekuatan yang diandalkan di Sulawesi Selatan.
Setelah kerjaaan Bone, Gowa pun kemudian aktif mengajak kerajaan-kerajaan lain menerima Islam. Ajakan itu mula-mula dilakukan melalui diplomasi dan hubungan persaudaraan antar kerajaan. Dalam konteks sejarah modern, banyak yang mencatatnya peristiwa ini sebagai bagian dari dinamika politik dan perluasan pengaruh kerajaan Gowa pada masa itu.
Dari sekilas sejarah diatas, yang patut dipahami bahwa, pada tahun 1611, Bone akhirnya menerima Islam secara resmi. Momentum inilah yang menjadi titik krusial dalam sejarah Bone dan selalu dikaitkan dengan masa pemerintahan La Tenri Ruwa. Ia berada di tengah fase penting perubahan orientasi kerajaan Bone menuju tatanan masyarakat Islam.
Dan didalam perspektif sejarah, peran La Tenri Ruwa sangat patut menjadi catatan penting karena ia merupakan bagian dari penghubung antara sistem tradisional Bone dengan lahirnya struktur sosial baru yang mulai dipengaruhi nilai-nilai Islam. Dan meskipun masa-masa itu diketahui berada dalam situasi politik yang berlangsung penuh tekanan dan pergolakan, situasi itu adalah momentum penerimaan Islam dan tetap menjadi tonggak monumental dalam perjalanan sejarah Bone.
Sesudah Bone menerima Islam pada masa La Tenri Ruwa, kemudian pada masa-masa kerajaan sesudahnya, muncul berbagai perangkat sosial, kelembagaan Islam dalam pemerintahan kerajaan di Bone.
Di antaranya lahir jabatan parewa syara’ sebagai perangkat kerajaan yang mengurus urusan keagamaan, berkembang sistem pengadilan agama, pendidikan mengaji di tengah masyarakat, penggunaan gelar-gelar Islam dalam lingkungan bangsawan dan kerajaan, serta integrasi syariat Islam ke dalam sistem adat Bugis Bone.
Perubahan-perubahan ini seterusnya berkembang menjadi sistem nilai yang perlahan membentuk tata kehidupan harmonis antara syariat dan adat yang kemudian menjadi salah satu ciri penting masyarakat Bugis Bone.
Ciri ini terbukti dengan dengan kehadiran falsafah Bugis yang dikenal dengan ungkapan: “Ade’ temmakkeana syara’, syara’ temmakkeana ade’.” Maknanya, adat menghormati syariat dan syariat menghormati adat. Falsafah ini memperlihatkan bagaimana sesungguhnya sudah sejak lama masyarakat Bone telah memiliki jejak sejarah membangun keseimbangan antara tradisi lokal dan nilai-nilai Islam.
Nilai-nilai Bugis seperti siri’, lempu’, getteng, dan sipakatau kemudian memperoleh penguatan moral dari ajaran Islam. Dari sinilah lahir dan terbentuk karakter masyarakat Bone yang religius sekaligus tetap menjaga akar budaya dan adatnya.
Hari ini, dalam pembacaan sejarah yang lebih luas dengan tanpa ingin melebih-lebihkan, La Tenri Ruwa patut ditempatkan sebagai salah satu figur penting dalam fase awal transformasi Bone menuju kerajaan Islam. Walaupun masa pemerintahannya berlangsung di tengah tekanan politik dan pergolakan antar kerajaan, namun periode itu menjadi penanda lahirnya perubahan besar dalam sejarah Bone.
Hari ini, sekirannya dapat dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap kontribusi penting La Tenri Ruwa dalam momentum Islamisasi Bone tahun 1611, sosok La Tenri Ruwa perlu ditempatkan sebagai bagian penting yang tidak boleh diabaikan dari memori kolektif masyarakat Bone. Dan selain dari itu, sudah selayaknya pula memunculkan ikhtiar bersama untuk menghidupkan kembali ingatan sejarah tersebut melalui berbagai langkah nyata, misalnya kemungkinan pengabadian nama La Tenri Ruwa pada ruang-ruang publik, lembaga pendidikan, maupun kegiatan kebudayaan dan keagamaan di Bone.
Akhirnya kita semua mesti yakin bahwa menjaga ingatan terhadap La Tenri Ruwa sesungguhnya adalah menjaga kesinambungan sejarah Bone itu sendiri, agar generasi masa kini dan masa depan juga menjunjung keyakinan, bahwa dari proses sejarah itulah lahir identitas masyarakat Bone yang religius, beradat, dan bermartabat. Salam Penghargaan dan Penghormatan tertinggi bagi La Tenri Ruwa Raja Bone ke-11 Tahun 1611. Salam beradat, Salam Pancasila. Merdeka.
Dr. Drs. Andi Djalante,MM.,M.Si
(Penulis adalah Putera Sulewatang Amali; Serta Pemerhati Sosiologi Hukum, Pemerintahan, dan Sosial-Budaya)