DENPASAR-WARTASULSEL.Id. Kabar gembira bagi Peternak ayam pedaging dan petelur serta Petani jangung dan padi, Rencana pembangunan hilirisasi ayam terintegrasi (HAT) di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan segera dilaksanakan sebagai proyek pengembangan peternakan dan diproyeksikan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru dan bagian dari penguatan stok protein nasional.
Sebagaimana disampaikan General Manager Corporate Secretary & CSR PT Berdikari, A.S. Hasbi Al Islahi pada saat kunjungan di BPTU HPT di Pulukan, Denpasar, Jumat 21 Agustus 2026, mengatakan bahwa, pembangunan HAT di Bone merupakan bagian dari program unggulan Kementerian Pertanian (Kementan) yang tengah didorong menjadi program strategis nasional.
Menurut Hasbi, investasi tahap awal pembangunan HAT di Bone mencapai sekitar Rp 627 miliar. Nilai tersebut akan digunakan untuk membangun tiga unit bisnis utama, yakni farm Parent Stock (PS), feed mill atau pabrik pakan, dan hatchery.
“Yang pertama adalah farm PS, Parent Stock, jadi indukan dengan kapasitas 168.000 ekor. Yang kedua feed mill atau pabrik pakan dengan kapasitas 10.000 ton per bulan. Kemudian hatchery dengan kapasitas 500.000 per minggu,” kata Hasbi.
Hasbi menjelaskan, pembangunan di Bone merupakan bagian dari investasi HAT secara nasional yang nilainya mencapai sekitar Rp18 triliun. Pada tahap pertama, pemerintah menyiapkan sekitar Rp2,3 triliun untuk sejumlah lokasi, termasuk Bone, Nusa Tenggara Barat (NTB), Malang, Lampung, dan Gorontalo.
“Artinya hampir 27 persen itu digelontorkan di Bone,” ujarnya.
Bukan Sekadar Proyek Pemerintah
Hasbi menegaskan, HAT harus dipandang sebagai bisnis yang benar-benar berorientasi pada keberlanjutan. Menurutnya, investasi negara yang besar harus menghasilkan aktivitas ekonomi yang terus berputar dan tidak berakhir menjadi proyek mangkrak.
“Pembangunan ini tidak sekadar project semata, project unggulan Kementan, bukan. Tetapi ini masuk ke pendekatan business approach,” tegasnya.
Karena itu, efisiensi, inovasi, dan keberlanjutan menjadi faktor penting dalam pelaksanaan proyek.
“Jangan sampai kita investasi kemudian mangkrak. Kita pastikan bahwa ini adalah the real business,” katanya.
Hasbi menggambarkan besarnya potensi efek berganda dari investasi tersebut. Pembangunan feed mill dan farm Parent Stock, kata dia, bukan semata-mata untuk menghasilkan pakan atau DOC, tetapi menjadi bagian dari rantai produksi ayam yang nantinya dapat berkembang hingga produk olahan.
“Yang keluar itu salah satunya meat processing, karkas, sosis dan sebagainya. Bayangkan akan berapa triliun multiplier effect-nya terasa di masyarakat,” ujarnya.
Dorong UMKM dan Lapangan Kerja
Keberadaan industri tersebut diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat Bone.
Hasbi menyebut tenaga kerja yang terserap pada tahap awal diperkirakan mencapai lebih dari 1.000 orang jika tiga unit bisnis utama dihitung secara keseluruhan.
“168.000 ekor itu tenaga kerjanya bisa di atas 300 orang. Itu baru farm, belum hatchery, belum feed mill,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya melibatkan UMKM dan infrastruktur ekonomi masyarakat dalam ekosistem bisnis HAT.
“Kita akan melibatkan infrastruktur masyarakat, UMKM untuk memutar ekonomi. Ini yang lebih menarik,” ujarnya.
Menurutnya, hilirisasi dapat meningkatkan nilai tambah produk secara signifikan karena produksi tidak berhenti pada bahan baku maupun barang setengah jadi.
“Yang akan keluar dari Bone itu bukan hanya barang baku dan barang setengah jadi, tapi barang jadi. Contohnya meat processing, ready to eat, ayam frozen, sosis dan daging,” kata Hasbi.
Bone Diproyeksikan Jadi Hub Indonesia Timur
Lebih jauh, PT Berdikari berharap Bone tidak hanya menjadi lokasi produksi, tetapi berkembang sebagai hub distribusi protein untuk kawasan Indonesia Timur.
“Bone harus jadi hub, harus menjadi jembatan untuk mendistribusikan ke Indonesia Timur. Ini tantangan terbesarnya. Jadi kita jangan terlalu eksklusif, harus inklusif,” katanya.
Konsep tersebut dinilai penting karena pengembangan industri peternakan tidak cukup hanya dengan membangun fasilitas produksi. Infrastruktur pendukung, termasuk rantai dingin atau cold chain, juga harus disiapkan.
Hasbi menyebut cold storage menjadi salah satu kebutuhan penting agar distribusi produk antarwilayah dapat berjalan dengan baik dan tidak menimbulkan ketimpangan pasokan.
Dukung Ketahanan Protein Nasional
HAT juga diarahkan untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG), sekaligus memperkuat ketersediaan protein nasional.
Hasbi mengatakan produksi ayam dari pengembangan HAT secara keseluruhan diproyeksikan menghasilkan surplus yang besar. Karena itu, selain memenuhi kebutuhan domestik, pasar ekspor dinilai menjadi tantangan berikutnya.
“Output dari HAT ini tidak sekadar kita mendukung MBG, tetapi kita ingin juga menjadi stok protein nasional,” katanya.
Ia menilai kebutuhan protein nasional akan terus meningkat seiring dengan program pemerintah dan target pembangunan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.
Telur dan ayam, menurut Hasbi, menjadi salah satu sumber protein hewani yang paling mudah diakses masyarakat.
“Kalau kita bicara Indonesia Emas 2045, maka sudah pasti akan wajib adanya peningkatan konsumsi protein. Artinya market kita semakin lebar,” ujarnya.
Tahap Berikutnya Bisa Masuk RPHU dan Industri Olahan
Hasbi mengatakan pembangunan tahap awal belum mencakup fasilitas Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU) maupun industri pengolahan daging. Fasilitas tersebut direncanakan masuk dalam pengembangan tahap berikutnya.
Ia bahkan mendorong Pemerintah Kabupaten Bone untuk mempertimbangkan pembentukan BUMD yang bergerak di sektor hilirisasi peternakan.
“Bisa jadi nanti Berdikari yang bangun atau segera Pak Bupati bangun melalui BUMD, bikin BUMD hilirisasi peternakan. Bikin RPHU, bikin meat processing di sana,” katanya.
Menurut dia, pengembangan tersebut dapat menciptakan sumber pendapatan baru bagi daerah sekaligus memperluas kemitraan dengan UMKM.
Proses Perizinan dan FS Dikebut
Dari sisi kesiapan pembangunan, saat ini proyek HAT Bone masih berada pada tahap perizinan dan persiapan studi kelayakan atau feasibility study (FS).
Hasbi mengatakan tim konsultan dari Sucofindo dan Surveyor Indonesia dijadwalkan turun ke Bone untuk melakukan pengumpulan data. Studi tersebut ditargetkan rampung dalam waktu sekitar 30 hari, bahkan diupayakan lebih cepat.
“Setelah itu tahap berikutnya selesai di akhir bulan, di pertengahan minggu kedua September, maka kita akan masuk ke konsultan konstruksi. Itu juga kajian cepat dan mudah-mudahan di Oktober sudah bisa terbangun,” ujarnya.
Untuk perizinan, Hasbi menyebut Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (PKKPR) telah terbit. Sementara dokumen lingkungan seperti UKL-UPL atau AMDAL sedang dipersiapkan bersama Universitas Hasanuddin (Unhas).
Kendala yang masih menjadi perhatian adalah proses perpanjangan Hak Guna Usaha (HGU) pada lahan yang disiapkan oleh PTPN I.
“Kalau bicara progress report ke Presiden, secara keseluruhan dari enam titik itu sudah sekitar 5,7 persen. Untuk Bone sendiri saya tidak tahu berapa,” kata Hasbi.
Masyarakat Diminta Ikut Mengawal
Hasbi meminta masyarakat Bone ikut mengawal pembangunan HAT agar investasi negara tersebut berjalan sesuai tujuan.
Ia mengingatkan agar proyek tersebut tidak terganggu praktik yang dapat meningkatkan biaya dan menghambat efisiensi bisnis.
“Saya ingin masyarakat Bone menyambut ini. Kita tongkrongin bersama, kita plototi. Kenapa? Karena jangan sampai ini jadi kontraproduktif,” katanya.
Ia menegaskan pembangunan HAT harus berlangsung dalam iklim usaha yang sehat, bebas dari praktik premanisme maupun pungutan yang dapat mengganggu efisiensi.
“Betul-betul harus diplototi, kita harus efisien. Tidak boleh ada orang yang malak-malak, tidak boleh ada premanisme, sehingga bisnis efisien dan sustained,” tegasnya.
Dengan investasi tahap awal sekitar Rp 627 miliar, pengembangan tiga unit bisnis peternakan, potensi penyerapan tenaga kerja lebih dari 1.000 orang, serta peluang pengembangan RPHU dan industri pengolahan pada tahap berikutnya, HAT di Bone diharapkan tidak berhenti sebagai proyek peternakan.
Proyek tersebut diproyeksikan menjadi ekosistem bisnis dari hulu hingga hilir yang mampu meningkatkan nilai tambah produk, membuka lapangan kerja, menggerakkan UMKM, memperkuat ketahanan protein, sekaligus menempatkan Bone sebagai salah satu simpul distribusi pangan untuk kawasan Indonesia Timur. *QMH*AHAS*